Khamis, 12 Mac 2015

Sketsa Di Suatu Petang

'Sketsa Di Suatu Petang'

Bismillahirahmanirrahim

Petang gemilang itu

Aku menyusuri sebuah lorong

Kiri kanan hutan belantara

Semak samun berjuntai ria

Mengingatkan aku hikayat berbingkai

Berteman kisah si langit biru

Di ruang angkasa

Ku terpandang sekawan burung

Lantas  mindaku berkata

Aku ingin menjadi burung

Punya sayap berselendangkan pelangi

Bebas menari dan menyanyi ke sana ke mari

Tapi tiba-tiba sang helang menyambar

Dengan kukunya yang panjang

Lantas melahapnya tanpa belas

Aku terus meraung

Aku tidak mahu sepertinya lagi.

Aku terus berjalan

Tiba di suatu pohon beringin

Bercucu-bercicit burung pipit bersarang

Aku gembira. Aku berasa

Aku ingin seperti pohon

Punya serba-serbi belaka

Tiba-tiba datang seorang manusia

Membawa parang

Lantas mencantasnya dengan rakus

Tidak peduli rintihan si pohon

Aku terus menangis

Aku tidak mahu menjadi sepohon kayu.

Dengan membawa kesedihan

Aku meninggalkan tempat itu

Berjalan dan terus berjalan

Berlari dan terus berlari

Tetiba angin kedamaian mengusap badanku

Hingga aku terleka seketika

Ku pejamkan mata merasai satu kenikmatan

Aku berasa ingin melayang ke udara

Bersama berarak  ke timur ke barat

Sesaat ku berasa aku telah menemui diriku

Ya, aku ingin menjadi sang pawana

Tapi belum sempat akalku menjangkau langit

Tiba-tiba aku bertembung dengan si beliung

Habis segala harta alam di musnahkannya

Aku terduduk kesenduan

Rupanya aku tersalah memilih lagi!

Saat aku hampir berputus-asa

Muncul suara gagah dari langit

Katanya: " kembalilah kepada-Nya!

Tak usah menjadi yang lain

Kerana dirimu sangat berharga

Jadilah dirimu sendiri,

Jadilah khalifah di dunia ini

Insan yang punya akal, hati dan nurani

Tak usah menjadi manusia

Yang ada akal tapi tak  punya hati,

Juga tak usah menjadi mereka

Kelak dirimu pasti binasa."

Setibanya aku di rumah

Aku terus sujud syukur

Akhirnya ku temui

Siapa diriku

Di luar sana, di atas sajadah alam.

LikeTweet

Tiada ulasan:

Catat Ulasan